Hari demi hari berlalu, banyak sekali orang yang kita temui. Berawal dari sebuah perkenalan, diiringi dengan sebungkus senyuman, kemudian saling menanyakan nama, alamat, dan beberapa identitas diri lainnya. Kemudian saling menanyakan hal yang digemari. Itulah awal sebuah perjumpaan.
Sahabat, begitu besar arti sebuah perjumpaan karena dengan perjumpaan itu kita telah memasuki sebuah pintu menuju sebuah ruang yang bernama “persaudaraan”. Sebuah ruang yang penuh dengan cinta, ketulusan, dan totalitas.
Begitu banyak orang yang kita temui, sangatlah wajar jika kita menemukan banyak sekali perbedaan. Ada yang pintar dan ada juga yang bodoh, ada yang kaya dan ada juga yang miskin, mungkin ada yang tampan dan ada juga yang tidak tampan.
Mari kita berpikir sedikit lebih dalam, apakah ada standar dalam agama yang menilai kepintaran seseorang? kebodohan, kekayaan, kemiskinan, ketampanan, dan semacamnya? Mungkin bagi si “A”, pendapatan 1 juta (rupiah) sangatlah berlebih untuk menghidupi dirinya, namun mungkin bagi si “B” pendapatan 5 juta (rupiah) amatlah sedikit.
Sungguh, segala hal yang tampak (memilik bentuk) di dunia ini sangatlah relatif dalam menafsirkannya. Karena itu, bukanlah hal yang bijak jika kita menjadikannya sebagai suatu acuan dalam bersosialisasi di dunia ini.
Dalam surat al Anfal ayat 63 Allah berfirman:
“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana.”
Dalam ayat di atas, Allah menautkan hati manusia karena kecintaan mereka pada Allah, sedikitpun bukan karena hal yang tampak di bumi ini. Hingga diperjelas dalam firmanNya “walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi”, Subhanallah… sungguh tinggi arti sebuah persaudaraan yang dibangun atas kecintaan padaNya.
Sahabat, mari kita renungkan, apakah kita sudah benar-benar memegang teguh prinsip ini? Bukankah sering kita jumpai seseorang yang membenci sahabatnya hanya karena uang, wanita, bahkan karena melihat sahabatnya mendapat kenikmatan, Astaghfirullah….
Rasulullah pernah bersabda yang mahfumnya seseorang belum dikatakan beriman jika dia belum mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya. Sungguh mulia derajad sebuah persaudaraan.
Mari kita perbaiki hal yang telah lalu, mari kita hilangkan “penyakit hati”, mari kita kembali pada fitrah kita sebagai mahluk yang mendambakan cinta kasih, ketulusan, dan kedamaian dalam hidup. Dan itu semua akan didapat jika kita semua sabar dan saling menasehati dalam menetapinya.
Senyum adalah ibadah, mari kita mulai hari ini dengan senyum yang mengharap ridho Allah. Apalah arti celaan manusia, kemuliaan sejati hanya berada di sisiNya, mari bersabar dalam membangun persaudaraan yang penuh cinta, tulus, dan totalitas karena Allah semata.
Sahabat, kesuksesan besar adalah kumpulan dari kesuksesan-kesuksesan kecil, mari kita kumpulkan serpihan-serpihan kesuksesan kita dalam bersabar untuk taat dalam menjalankan perintahNya untuk meraih kesuksesan besar di akherat kelak, InsyaAllah.
Orang cerdas berpikir perbedaan ada untuk disatukan,
Orang bodoh berpikir perbedaan ada untuk saling menjatuhkan
Selamat menjalani hari-hari dengan ibadah
29 November 2007 – 11:58 pm
Sheng-li 4 Dormitory
National Cheng Kung University
Tainan-Taiwan
