Longlife learning

Entries categorized as ‘Islam’

Adu strategi di EURO 2008, sebuah model perenungan

June 20, 2008 · 1 Comment

Sejak 7 Juni lalu, Piala Eropa 2008 telah dimulai. Jutaan perhatian orang tertuju pada pesta sepak bola terbesar yang dihelat di Eropa tersebut. Kali ini Austria-Swiss menjadi tuan rumah bersama. Banyak pihak yang terlibat dalam even ini. Salah satunya adalah para pelatih dari 16 tim yang berlaga dalam EURO 2008.

Dari tiap tim yang berlaga di even ini, kesemua pelatih harus bersiap memutar otak untuk meramu strategi yang jitu agar timnya dapat memenangkan setiap pertandingan dan menjadi yang terbaik dalam kejuaraan ini.

Marco Van Basten, mantan pemain tim nasional “kincir angin” Belanda dan klub AC Milan di era 80-90an yang kini menjadi arsitek tim nasional Belanda, adalah salah satu nama yang mencuat dalam even ini seiring dengan kegemilangan prestasi anak asuhnya (tim nasional Belanda) di babak penyisihan EURO 2008.

Ya, memang dengan prestasi nyata, seseorang akan mendapat sebuah pengakuan. Tentulah bukan sekedar membalikkan telapak tangan baginya untuk bisa mencapai prestasi tersebut. Banyak hal yang berpengaruh dan membutuhkan waktu yang tidak singkat dalam mewujudkannya. Selain itu, di awal kepemimpinannya sebagai arsitek tim “oranye” ini, dia banyak mendapat tekanan dari pihak-pihak yang tidak percaya pada kinerjanya. Mengingat dia tergolong “pendatang baru” dalam dunia kepelatihan. Namun dalam prestasi sebagai pemain, pemenang 2 kali gelar pemain terbaik Eropa dan dunia ini tidak lagi diragukan.

Menarik sekali menyimak sejenak tentang dunia kepelatihan, bagaimana mereka bekerja, siapa saja pihak-pihak yang bekerja sama dengan sang pelatih, dan hal menarik lainnya hingga seorang pelatih bisa mencapai kesuksesannya, atau bahkan menjadi terpuruk tanpa prestasi.

Dalam sebuah tim, seorang pelatih kepala (head coach) mempunyai asisten yang ahli di bidangnya. Diantaranya adalah: pelatih kiper (goalkeeping coach), pelatih kebugaran (fitness coach), pemantau bakat (scout), dan asisten pelatih lainnya. Kesemuanya saling berkomunikasi dalam arahan seorang pelatih kepala untuk dapat membentuk sebuah tim yang dapat menyuguhkan strategi permainan yang indah. Dan para pemain adalah pelaksana strategi tersebut tuk mencapai sebuah prestasi.

Selain itu, seorang pelatih juga mengumpulkan berbagai informasi terkait internal tim (info tentang pemain) maupun tentang kekuatan lawan tanding mereka, dengan harapan agar keutuhan tim terus terjaga yang dapat menjadi modal utama untuk menerapkan strategi dalam pertandingan. Tak jarang juga mereka menggunakan alat perekam (video) untuk mengamati dan belajar dari strategi yang diterapkan oleh lawan untuk kemudian dijadikan dasar dalam merumuskan strategi bertanding agar dapat memenangkan setiap pertandingan.

Di lain sisi, ada sebuah nilai moral yang begitu dijunjung dalam sepak bola profesional, yaitu “good attitude”. Sehingga setiap kemenangan tentulah harus diraih dengan cara yang baik (baca: sesuai aturan). Masih hangat dalam ingatan kita, bagaimana proses hilangnya status juara liga itali (Juventus) ketika tersangkut kasus “calciopoli”, terkait dengan suap-menyuap dan pengaturan skor pertandingan dengan pihak tertentu. Titel juara yang diperjuangkan dalam waktu hampir satu tahun, hilang dalam sekejap.

Hikmah dari dunia kepelatihan ini:

Dalam “turnamen” kehidupan kita, seorang pelatih kepala adalah layaknya otak dan hati kita yang terus mencoba saling berkomunikasi. Sang asisten pelatihnya adalah kondisi psikis dan panca indera kita saling bekerja sama guna menyediakan informasi dalam sebuah arahan otak dan hati kita untuk menyuguhkan sebuah pribadi yang menawan dan beramal shaleh. Sehingga akan teramu menjadi sebuah strategi hidup yang visioner, menjadi manfaat bagi sebanyak-banyak manusia dalam bingkai pengabdian kepada Allah.

Memori kita adalah alat perekam dari gerak-gerik musuh yang akan kita hadapi, baik yang muncul dari dalam diri maupun dari godaan di luar diri kita yang kesemuanya dimotori oleh setan. Perenungan di sepertiga malam terakhir akan sangat membantu kita dalam mengamati kesalahan kita maupun strategi musuh yang akan kita hadapi. Dengan semakin sering merenung (baca: konsisten), InsyaAllah akan semakin banyak informasi yang kita dapat untuk meramu (berfikir) strategi jitu dalam memenangkan pertandingan dalam kehidupan ini.

Sedangkan fisik, harta, dan segala anugerah Allah yang diamanahkan kepada kita adalah senjata untuk mewujudkan semua itu menjadi sebuah kemanfaatan yang dirasakan oleh sebanyak-banyak umat.

Dan tentunya, Al Quran dan As Sunnah yang dapat menjadi pembeda yang hak dan yang batil, dan menjadi panduan bagi mereka yang merindukan kemenangan yang kekal.

Kemanfaatan yang muncul dari pribadi yang ikhlas adalah suatu yang luar biasa. Hidupnya adalah untuk mengabdi sebagai pelayan Allah di bumi ini. Dan sebagai penerus risalah penyampai kabar gembira dan peringatan dari Allah dalam setiap tipe kehidupan yang dijalaninya. Itulah prestasinya, dimana (tanpa diminta) orang akan merasakan kemanfaatan (prestasi) darinya.

Mari senantiasa mengevaluasi (hisab) diri dan menjadikan hari esok lebih baik dari hari ini dan kemarin.

Kata orang sih, ada kalanya hidup itu di bawah dan ada waktunya pula di atas. Namun tentulah entah di atas atau di bawah, ada penyebabnya bukan?

Categories: Hikmah

Pas, tidak kurang dan tidak lebih,

June 20, 2008 · 1 Comment

Sudah hampir 1 minggu ini hujan mengguyur tempat aku tinggal, padahal saat ini sedang menuju musim panas. Suasana mendung seakan menjadi sahabat karib rintik hujan yang turun. Musim panas di sini cukup aneh bagiku, karena ketika “summer” tiba biasanya diiringi dengan badai tayfun dan hujan yang sekali turun, hampir beberapa hari tidak terhenti, mirip dengan cerita seorang rekan ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di pulau Formosa ini.

Namun bagi kami, para mahasiswa yang tinggal di asrama, kami harus mencari akal agar kami tetap dapat berangkat ke kampus untuk mengikuti perkuliahan dengan normal. Ya, apapun keadaannya, memang tujuan dan tugas kami di sini adalah belajar agar kelak dapat menjadi manfaat bagi sebanyak-banyak manusia.

Alhasil ada pemandangan baru di sepanjang lorong asrama. Kulihat beberapa payung yang masih basah berjajar tergeletak di depan pintu kamar, dan ada juga jas hujan (mantel) yang digelantungkan di depan pintu kamar. Tak lain itu adalah salah satu upaya kami agar kami bisa tetap menjalani aktifitas kami dengan normal.

Sepintas, anganku menerawang tuk mencoba mencari hikmah dari turunnya hujan ini. “Laa hawla quwwata illa billah”, benar adanya, memang tiada kekuatan selain kekuatan yang datangnya dari Allah. Ketika hujan datang tiada satupun dari kami yang mampu menolaknya, begitu pula ketika hujan terhenti, tiada satupun yang mampu menyegerakan datangnya. Meski mungkin ada sebagian dari kami yang mengeluh ketika hujan tidak turun sehingga panas yang menyengat cukup membuat kami berpeluh keringat. Ataupun jika hujan turun, mengeluh karena sedikit mengganggu aktifitas. Namun apapun keadaannya kami harus berusaha semaksimalnya agar aktifitas kita tetap berjalan sebagaimana adanya, sehingga tujuan kami untuk belajar di sini tetap tercapai.

Adakalanya kita hidup mendapat ujian berupa kesusahan, dan terkadang kita juga diuji dengan kesenangan. Meski ada yang “tidak terima” dengan kesusahan yang dirasa, ataupun “kurang puas” dengan kesenangan yang didapat, namun sepanjang kita tahu tujuan hidup kita (Qs. 51:56), serta terus istiqomah tuk belajar mengerti arti dan mengamalkan petunjuk Rasulullah dalam menghadapi kehidupan dunia ini, InsyaAllah akan semakin banyak hikmah yang terkuak yang semakin bisa menundukkan hati ini untuk semakin taat kepada Allah sebagai bekal dalam menyikapi hidup ini dengan “pas”, tidak kurang dan tidak lebih.

Layaknya ketika hujan tiba, salah satu usaha kita agar tetap dapat beraktifitas dengan normal adalah dengan memakai mantel. Meski ada sebagian percikan air yang tetap bersentuhan dengan tubuh kita, namun kita faham bahwa setelah menggunakan mantel kita akan terhindar dari basah kuyup sehingga kita bisa menjalani aktifitas dengan normal. Dan tentu hanya orang yang pernah melakukannya-lah yang dapat merasakan manfaatnya.

Begitupun ketika dalam hidup ini kesusahan sedang kita dapatkan, agar tetap dapat hidup normal, Rasulullah SAW. mengajarkan kepada kita untuk bersabar sehingga kita tidak terlarut dalam kesedihan yang dalam yang dapat menjadikan kita tidak produktif. Atau agar kita dapat tetap menjalani hidup dengan normal ketika sedang mendapat kesenangan, Rasulullah SAW. ajarkan kepada kita untuk pandai bersyukur agar tidak terlalu berlebihan dalam kesenangan dan selalu ingat bahwa nikmat ini adalah amanah untuk berbagi dengan sesama.

“…Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Qs. 7:31)

Pas, tidak kurang dan tidak lebih, itu saja…

Wallahualam

Categories: Hikmah