Sudah hampir 1 minggu ini hujan mengguyur tempat aku tinggal, padahal saat ini sedang menuju musim panas. Suasana mendung seakan menjadi sahabat karib rintik hujan yang turun. Musim panas di sini cukup aneh bagiku, karena ketika “summer” tiba biasanya diiringi dengan badai tayfun dan hujan yang sekali turun, hampir beberapa hari tidak terhenti, mirip dengan cerita seorang rekan ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di pulau Formosa ini.
Namun bagi kami, para mahasiswa yang tinggal di asrama, kami harus mencari akal agar kami tetap dapat berangkat ke kampus untuk mengikuti perkuliahan dengan normal. Ya, apapun keadaannya, memang tujuan dan tugas kami di sini adalah belajar agar kelak dapat menjadi manfaat bagi sebanyak-banyak manusia.
Alhasil ada pemandangan baru di sepanjang lorong asrama. Kulihat beberapa payung yang masih basah berjajar tergeletak di depan pintu kamar, dan ada juga jas hujan (mantel) yang digelantungkan di depan pintu kamar. Tak lain itu adalah salah satu upaya kami agar kami bisa tetap menjalani aktifitas kami dengan normal.
Sepintas, anganku menerawang tuk mencoba mencari hikmah dari turunnya hujan ini. “Laa hawla quwwata illa billah”, benar adanya, memang tiada kekuatan selain kekuatan yang datangnya dari Allah. Ketika hujan datang tiada satupun dari kami yang mampu menolaknya, begitu pula ketika hujan terhenti, tiada satupun yang mampu menyegerakan datangnya. Meski mungkin ada sebagian dari kami yang mengeluh ketika hujan tidak turun sehingga panas yang menyengat cukup membuat kami berpeluh keringat. Ataupun jika hujan turun, mengeluh karena sedikit mengganggu aktifitas. Namun apapun keadaannya kami harus berusaha semaksimalnya agar aktifitas kita tetap berjalan sebagaimana adanya, sehingga tujuan kami untuk belajar di sini tetap tercapai.
Adakalanya kita hidup mendapat ujian berupa kesusahan, dan terkadang kita juga diuji dengan kesenangan. Meski ada yang “tidak terima” dengan kesusahan yang dirasa, ataupun “kurang puas” dengan kesenangan yang didapat, namun sepanjang kita tahu tujuan hidup kita (Qs. 51:56), serta terus istiqomah tuk belajar mengerti arti dan mengamalkan petunjuk Rasulullah dalam menghadapi kehidupan dunia ini, InsyaAllah akan semakin banyak hikmah yang terkuak yang semakin bisa menundukkan hati ini untuk semakin taat kepada Allah sebagai bekal dalam menyikapi hidup ini dengan “pas”, tidak kurang dan tidak lebih.
Layaknya ketika hujan tiba, salah satu usaha kita agar tetap dapat beraktifitas dengan normal adalah dengan memakai mantel. Meski ada sebagian percikan air yang tetap bersentuhan dengan tubuh kita, namun kita faham bahwa setelah menggunakan mantel kita akan terhindar dari basah kuyup sehingga kita bisa menjalani aktifitas dengan normal. Dan tentu hanya orang yang pernah melakukannya-lah yang dapat merasakan manfaatnya.
Begitupun ketika dalam hidup ini kesusahan sedang kita dapatkan, agar tetap dapat hidup normal, Rasulullah SAW. mengajarkan kepada kita untuk bersabar sehingga kita tidak terlarut dalam kesedihan yang dalam yang dapat menjadikan kita tidak produktif. Atau agar kita dapat tetap menjalani hidup dengan normal ketika sedang mendapat kesenangan, Rasulullah SAW. ajarkan kepada kita untuk pandai bersyukur agar tidak terlalu berlebihan dalam kesenangan dan selalu ingat bahwa nikmat ini adalah amanah untuk berbagi dengan sesama.
“…Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Qs. 7:31)
Pas, tidak kurang dan tidak lebih, itu saja…
Wallahualam
1 response so far ↓
disty // July 7, 2008 at 4:22 pm
Ass…
Sesuatu memang akan sangat indah jika pas pada porsinya. Aku juga pernah menulis tentang hal yg sama meski contohnya berbeda. Keadilan memang indah, tp keadilan yang mutlak memang hanya milik Alloh dan keadilan milik manusia hanya bersifat relatif. Meskipun bersifat relatif, semoga kita semua bisa memulai dari diri kita sendiri untuk selalu berbuat adil ke semua makhluk-Nya.
btw, u can reached me at http://disty.blogdetik.com
i’m not a blogholic, but i try to save and share my thinking with another although i’m not advance at that
Wass..