“Suami adalah pemimpin dan pelindung bagi istrinya, maka kewajiban suami terhadap istrinya ialah mendidik, mengarahkan serta mengertikan istri kepada kebenaran. Kemudian memberinya nafqah lahir-bathin, mempergauli serta menyantuninya dengan baik.”
Tidak disangsikan lagi bahwa di zaman ini dibutuhkan banyak sekali pemimpin yang benar-benar paham akan apa yang harus dia pertahankan, dia perintahkan, dan dia perjuangkan. Dengan begitu maka akan terbentuk pribadi-pribadi yang berpendirian dan setia pada prinsip hidupnya dan InsyaAllah akan mampu membangun generasi penerus yang tangguh, dimana dunia dalam genggamannya, namun hanya Allah yang bertahta di hati para penerusnya.
Keluarga adalah wadah pendidikan terpenting dalam pembangunan peradaban yang agung. Oleh karenanya, dibutuhkan sosok pemimpin yang visoner dan berkomitmen pada apa yang diyakini dan dipilihnya.
Halaman ini berisi tentang kumpulan firman Allah dan sabda Rasulullah Saw., terkait dengan kewajiban suami terhadap istri.
Firman Allah SWT :
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafqahkan sebagian dari harta mereka …. [QS. An-Nisaa' : 34]
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. [QS. At-Tahrim : 6]
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bershabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezqi kepadamu, Kami lah yang memberi rezqi kepadamu. Dan akibat (yang baik) adalah bagi orang yang bertaqwa. [QS. Thaahaa : 132]
Dan bagi ayah berkewajiban memberi nafqah dan memberi pakaian kepada ibu (dan anaknya) dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kesanggupannya. [QS. Al-Baqarah : 233]
Hendaklah orang yang mampu memberi nafqah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezqinya hendaklah memberi nafqah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. [QS. Ath-Thalaaq : 7]
Mereka bertanya kepadamu tentang haidl. Katakanlah, “Haidl itu adalah kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidl, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah khabar gembira orang-orang yang beriman. [QS. Al-Baqarah : 222-223]
Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Dan bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bershabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. [QS. An-Nisaa' : 19]
Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu derajat kelebihan dari pada istrinya. [QS. Al-Baqarah : 228]
Sumber:
Brosur Kajian Ahad Pagi Majlis Tafsir Alquran (MTA)
Tema: Rasulullah SAW suri teladan yang baik (bagian ke-33)
Ahad, 31 Desember 2006/10 Dzulhijjah 1427
semoga kita menjadi bapak yang sesuai dengan tuntunan allah dan rosulnya
Amin, InsyaAllah…
wah jadi makin semangat nih,
semangat apa ya???
hehe…
Hemmm….
Assalammualaykum ….
Usul AAm, foldernya tuh dinama`i Persiapan menjadi Suami or kepala keluarga…
kalo judulnya Persiapan Menjadi Bapak, artikelnya ttg cara mendidik anak dunk…
He3x…
Gutlak yakz…
Smg senantiasa istiqomah
buat para calon suami, jadilah suami yang mengayomi dan membuat istri tentram serta mengajak kebaikan, ibadah dan meningkatkan ketaqwaan, jangan jadi suami yang memeras penghasilan istri untuk kebutuhan rumah tangga yah. Penghasilan istri itu bukan hak suami loh
apakah harus seperti it kewjiban suami, apakah kita harus patuh jika suami menzolimi sang istri,
kalau suami tidak bekerja, dan istri bekerja, apakah semua keperluan keluarga menjadi tanggung jawab istri…???
sampai berapa lama batas sang istri harus bisa bertahan jika nafkah yg di beri suami tdk mencukupi dan sang istri harus menanggung semuanya..,percuma juga punya suami kalo g bisa menuhi kewajiban lahirnya sedangkan kebutuhan bathinnya selalu mau di turuti…mohon saranmya..tks
lelaki kalau sudah menjadi suami harus sayang sama istri, jangan sampai lebih sayang sama kakak dan adiknya daripada istri sendiri
kenapa suami ku lebih memilih dengan teman nya dari pada istri sendiri?
padahal apa yang aku saran kan untuk kebaikan nya
contoh nya papa jangan pulang terlalu sore kita bareng pulang nya papa mampir dulu ke kantr mama (kebetulan sejalan arah pulang ke rumah).tapi di berkata lebih baik dengan teman nya kita ketemu dirumah mama pulang saja sendiri.apa ini yang harus ku terima?