Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.
(Qs. Lukman (31) ayat 31)
Sabar dan syukur, adalah sepasang bagian pondasi akhlaq bagi seorang mukmin. Dalam ayat di atas Allah berkenan memperlihatkan sebahagian dari tanda-tanda kekuasaanNya bagi semua orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur.
Sejenak, saya akan membersamai anda untuk merenungkan kembali sebagian kecil dari kejadian di alam ini. Ketika Allah hendak menakdirkan manusia lahir di bumi ini melalui rahim seorang yang begitu luar biasa yang bernama “Ibu”, ada sebuah rentang waktu sekitar 9 bulan 10 hari hingga anak tersebut terlahir di dunia ini. Kemudian ketika matahari terbit menyinari bumi ini, dan ketika kembali keperaduannya, ada proses transisi dari gelap ke terang. Lalu ketika seorang petani hendak menanam padi di sawah, tak luput juga, ada waktu yang dibutuhkan hingga masa panen tiba. Bahkan, Allah menciptakan alam ini dalam waktu 7 hari. Ya, anda benar! Semua itu melalui proses. Dan bagian terpenting dalam sebuah proses untuk mencapai tujuannya adalah kesabaran.
Tahukah kita, apakah yang membuat seorang anak adam berbuat maksiat? Jawabnya, karena dia tidak memiliki ilmu tentang larangan untuk berbuat maksiat. Jikalau ia memiliki ilmu tentangnya, maka tentulah karena ia menolak kebenaran ilmu tersebut atau bisa juga dikarenakan ia kurang sabar dalam menaatinya. Ilmu dan sabar adalah sesuatu yang berdampingan.
Jika seseorang kurang sabar, tentulah ia tidak akan mendapat ilmu. Sedangkan ilmu adalah sebuah pengetahuan, yang membuat kita mampu menyelesaikan sesuatu dengan tepat (sesuai tujuan), efisien (metode yang tepat), dan efektif (dalam waktu yang cepat).
Coba kita bayangkan, seandainya kita akan membangun sebuah gedung bertingkat, katakanlah 10 tingkat, sedangkan kita tidak mempunyai ilmu tentangnya, sangatlah besar kemungkinan kita untuk tidak bisa menyelesaikannya. Seandainya kita tetap mencoba membangunnya, sudahlah tentu akan asal-asalan (tanpa ilmu), dan tentu kita paham jika sesuatu dilakukan tanpa ilmu, kehancuran adalah hasilnya. Satu-satunya cara untuk dapat menyelesaikannya adalah dengan menguasai ilmunya. Dan berdasarkan ayat di atas, formula pertama yang Allah sediakan bagi hambaNya yang ingin mendapat ilmu adalah bersabar dengan sangat.
Formula kedua yang Allah syaratkan adalah dengan banyak bersyukur. Suatu misal, di sebuah kerajaan di anta berantah, tinggallah seorang raja yang begitu dermawan. Suatu ketika, ada dua orang pendatang yang kehabisan bekal. Karena kedermawanannya, setelah mendengar berita tersebut, sang raja segera mengutus pengawalnya untuk memenuhi kebutuhan sang pendatang itu. Dicukupinya segala sandang, pangan, dan papan mereka.
Menyikapi kebaikan raja tersebut, pendatang A dengan senang hati menerima dan memanfaatkan segala fasilitas yang diberikan oleh raja, namun sekalipun dari bibirnya tidak pernah terucap kata “terima kasih” bahkan sedikitpun hatinya tidak tergerak dengan kebaikan sang raja yang dermawan. Sedangkan pendatang B, ketika mengetahui bahwa yang mencukupi segala kebutuhannya adalah sang raja, ia pun bergegas dengan segala cara untuk mencoba menemui sang raja, mengucapkan rasa terima kasihnya yang sangat atas kebaikan raja tersebut, bersedia untuk mengabdi pada sang raja untuk menuruti segala perintahnya, bahkan ia rela mengorbankan harta dan jiwanya demi membalas kebaikan sang raja.
Sahabatku, dari analogi singkat di atas, timbul sebuah pertanyaan; “Kepada pendatang yang manakah, sang raja akan memberikan perhatiannya lebih dan mencukupi segala kebutuhannya?”. Ya, tepat sekali dugaan anda! Pendatang B!
Itulah analogi singkat yang semoga bisa menambah pemahaman kita akan makna dan pentingnya banyak bersyukur kepada Allah. Dalam Qs. 14 ayat 7 Allah berfirman: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Tidaklah baju yang melekat pada tubuh, uang yang berada di dompet, rumah yang kita tinggali, dan segala bentuk yang bisa kita manfaatkan, melainkan semua berasal dari Allah.
Sungguh sistematis, indah, dan sempurna siklus pembelajaran yang Allah tetapkan bagi hambaNya. Untuk kecerdasan intelektual (IQ), Allah Mendidik kita pada “sesi ilmu”, sedangkan Allah Memberi kita pendidikan untuk kecerdasan emosional (EQ) pada “sesi sabar”. Dan pada kecerdasan spiritual (SQ), Allah mendidik kita melalui “sesi syukur”. Subhanallah.
Seluruh aspek yang kita butuhkan untuk memaksimalkan potensi dalam mencapai sebuah “Personal Excellent” telah termuat pada siklus ini.
Saya menganalogikan siklus ini dengan sebuah kondisi ketika kita hendak bepergian dengan sebuah mobil balap. Ilmu adalah bagaikan peta elektronik yang kita miliki untuk mengetahui jarak dan jalur terbaik yang bisa kita pilih, Sabar adalah rem yang bisa menghindarkan kita dari kecelakaan, dan syukur adalah turbo yang memberikan kita percepatan untuk mencapai tujuan yang kita inginkan.
Nah, pertanyaan terbesar sekarang adalah, siapakah orang yang mengemudikan mobil tersebut? Seberapa jeli dan tekun dia membaca peta elektronik? Seberapa lihai dia menggunakan remnya? Dan seberapa cerdas dia memanfaatkan turbo-nya?
Sebuah perubahan besar adalah kumpulan dari perubahan-perubahan kecil yang tertata dengan sistematis, terjaga dengan komitmen, termotivasi oleh tujuan yang visioner, dan terlaksana dengan keimanan yang murni.
Oleh : Iman Harymawan
kuliah malam….